GOD LOVE ME
“Luna
... Luna.” Teriak mama Luna dari dapur.
“Aduh,
kenapa sih ma ? Pagi-pagi udah teriak-teriak gitu.” Kata Luna sambil lari
menuju dapur.
“Kemarin
mama habis beli roti satu kardus terus mama taruh di kulkas. Kok sekarang nggak
ada ?” tanya mama pada Luna.
“Oh
itu, rotinya udah Luna kasihin Dika ma.Kasihan kan dia tiga hari lalu ayahnya
meninggal karena sakit liver. Sekarang dia hanya tinggal dengan ibunya, dia dan
ibunya kerja keras demi sesuap nasi.”
“Mama
nggak ngelarang kamu kasih dia makanan tapi kamu bilang mama dulu dong. Roti
itu kan pesenan tante kamu.”
“Ya,
maaf ma.”
“Yaudah
nanti mama beli lagi. Kamu mandi sana udah jam 6 tuh.”
“Iyaa
ma.”
***
45
menit kemudian.
“Luna
berangkat dulu yaa ma. Assalamuallaikum.” Kata Luna sambil setengah lari keluar
rumah.
“Iyaa.
Wallaikumsallam.”
Di
depan rumah ...
“Dika,
kamu ngapain kerumahku ?” tanya Luna penasaran.
“Aku
mau nganter koran ini Lun.” Jawab ku sambil terseyum.
“Sejak
kapan kamu jualan koran ?”
“Sejak
ayahku pergi.”
“Emm,
yaudah kita berangkat bareng yuk.” Luna seperti mengalihkan pembicaraan agar
aku tidak terlihat sedih.
“Boleh.”
Luna Ramadhani dia adalah teman
sebangku ku disekolah, dia anak yang baik dan sopan. Aku dan Luna bersekolah di
SMP NUSA 1 Bogor, kami baru saja menempuh UN dan sekarang kami tinggal menunggu
hasilnya.
“Sekarang
aku sibuk sekali Lun, pulang sekolah aku harus berjualan asongan setelah itu
aku menjadi buruh di pasar. Semua ku lakukan demi meringankan pekerjaan ibu
ku.”
“Apa
kamu tidak lelah ? Kalau seperti itu terus kamu bisa sakit loh ?”
“Biarlah
Lun, hidup itu perlu perjuangan.”
“Hem,
iya.”
***
Dirumah
ku ...
“Bu,
besok Dika libur jadi bisa membantu Ibu seharian penuh.” Kataku sambil
tersenyum.
“Iyaa,
tapi kamu harus tetap menjaga kesehatanmu ya, ibu tidak mau kamu sakit karena
kelelahan membantu Ibu.”
“Iyaa
bu.”
Aku pergi menuju kamarku yang sempit
ini, rumah ku hanya terbuat dari bambu. Di kamarku banyak anyaman bambu yang
mulai bolong jadi kalau malam banyak nyamuk masuk ke kamarku. Aku berharap
kelak aku bisa membangunkan rumah orang tua ku yang bagus. Yaa , semoga Allah
mendengar suara hatiku ini.
Keesokkan
harinya di jalan raya ...
“Sudah
jam 12, kita makan disana saja yaa Dik.” Kata ibu sambil menunjuk sebuah warung
di seberang jalan.
“Iyaa
bu.” Kataku sambil memperhatikan Ibu yang tubuhnya penuh dengan keringat. Ibu
terlihat kelelahan.
“Ayo,
kita ke sana.” Ajak Ibu membuyarkan lamunanku.
Aku melihat kearah Ibu tapi Ibu
sudah menyebrang terlebih dahulu. Ketika ingin menyusul Ibu aku melihat ada
kendaraan yang menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi, padahal Ibu
sedang berada ditengah jalan.
“Awaass
.... Ibuu !!” teriak ku.
BRRAAKK
!!
“Ibuuuuuuu
!” aku berteriak lagi , wajah ku terbasuh oleh air mata yang mengalir deras
bagai hujan dengan petir menggelegar.
“Hei,
siapa yang menabrak Ibu ini ?” tanya seorang polisi
“Mobil
itu pak, saat lampu merah dia menerobos sehingga menabrak Ibu yang sedang
menyebrang ini.” Kata seorang warga.
“Lalu
mana orang itu ?” tanya polisi itu lagi.
“Dia
melarikan diri, Pak.” Jawab warga.
Suasana saat itu ramai riuh, jalanan
macet. Sementara Ibuku terkapar lemas dengan wajah penuh darah. Hati ku seperti
ditusuk tombak yang runcing, aku seperti patung yang diam tak berguna. Aku
ingin berontak tanpa alasan. Tuhan, kenapa ini terjadi padaku ? Lihatlah aku
tuhan menangis tak berguna, hatiku juga ikut menangis tuhan.
***
Dirumah
sakit ...
“Ibu
bangunlah, ke .. ke napa ini terjadi pada Ibu.” Kataku terbata-bata.
Sudah tiga jam ibu tak sadarkan
diri, sudah tiga jam pula aku menangis. Hatiku juga ikut menangis, aku sangat
terpukul.
“Dika,
gimana keadaan Ibumu.”
Suara lembut itu mengagetkanku, aku
tahu persis itu suara siapa. Yaa... itu suara Luna. Dia datang bersama orang
tuanya.
“Sudah
tiga jam ibuku tidak sadarkan diri Lun.”
“Kamu
sudah makan ?”
“Belum.”
“Kamu
makan dulu dong, ayo aku antar. Biar ibu mu yang menjaga mama dan papa ku.”
“Iyaa,
Dika kamu makan dulu sana. Biar om sama tante yang jaga Ibu kamu.” Kata mama
Luna.
“Baiklah,
aku titip Ibu ya tante.”
Sebenarnya aku tidak nafsu makan
sama sekali tapi aku harus makan. Kata Ibu makan itu penting untuk menambah
energi, aku selalu ingat pesan Ibu. Aku makan di kantin rumah sakit ditemani
Luna.
DING
DONG DING DONG .... Telepon Luna berbunyi.
“Hallo, kenapa ma ?.”
“Kamu cepat kesini yaa,
ibu Dika kejang-kejang.”
“Hah, iya ma secepatnya
aku kesana.”
Luna menatapku dengan wajah sedih.
Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang terjadi. Hatiku mulai berbicara hal yang
aneh-aneh. Aku semakin penasaran.
“Kenapa
Lun ?”
“Kita
harus kembali ke ruangan Ibumu, kata mama ku ibumu kejang-kejang.”
Tanpa berkata-kata baku langsung
lari menuju ruangan Ibu, perasaan ku tak menentu. Saat itu aku hanya takut dan
takut !
“Tante,
mana Ibu ?”
“Ibu
mu sudah dibawa keruang ICU. Kamu tenang dulu ya Dik.” Jawab tante Helen
lembut.
“Ibu
kenapa ini harus terjadi pada Ibu, kenapa ?” aku berteriak sambil menangis.
Tante Helen langsung memeluk ku,
berusaha menenangkan ku. Semua terlihat sedih saat itu, begitu juga aku. Aku
seperti sudah tak sadarkan diri.
“Dika
kamu harus tenang, Ibu mu sudah ditangani dokter. Lebih baik kita berdoa semoga
Ibu mu baik-baik saja.”
30
menit kemudian.
“Keluarga
Ibu Shinta ?” tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“
Iyaa dok, gimana keadaan Ibu saya ?” tanyaku penasaran.
“Saya
sudah berusaha semaksiml mungkin tapi takdir berkata lain, Ibu kamu sudah
dipanggil Allah. Ibu mu mengalami komplikasi otak, kamu yang sabar ya nak.”
Hatiku seperti meleleh mendengar
kata dokter, tubuhku rasanya remuk. Senyum dan nasehat Ibu yang selalu membuat
ku semangat dalam menjalani hidup sudah tak ada lagi. Aku menangis
sejadi-jadinya. Aku berteriak saat itu tak peduli kalau semua orang
memperhatikanku.
“IBUU...
kenpa Ibu meninggalkan ku ? Aku harus hidup dengan siapa bu ? Tuhan, kenapa
engkau mengambil nyawa Ibu ku setelah 4
hari lalu kau mengambil nyawa Ayahku ? Kenapa engkau memberiku cobaan bertubi-tubi tuhan ? Bukankah kau dengar
suara hatiku, yang setiap hari berharap bisa membahagiakan orang tua ku ? Tapi
mengapa mereka berdua kau ambil ya Allah ? Apa salahku ?”
“Dika,
kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Ini sudah takdir Dika, mungkin Allah
punya rencana lain dibalik ini semua. Kamu harus sabar.” Kata Luna yang mencoba
menenangkan ku.
“Kamu
mungkin bisa berbicara seperti itu Lun, karena orang tua mu masih ada. Coba
kamu jadi aku, sekarang aku sudah tidak punya orang tua lagi.”
“Tapi
...” kata Luna tidak melanjutkan bicaranya.
***
10
tahun kemudian ...
“Ma,
sudah siap belum. Meetingnya dimulain jam 8 loh.”
“Iyaa
pa, sebentar.”
Di
sebuah perusahaan ...
“Selamat
bapak Muhammad Andika telah membuat perusahaan ini lebih maju dan berhasil
memperbanyak nasabah.”
Yaa, itu aku Dika yang dulu pedagang
asongan dan buruh pasar sekarang menjadi manager di sebuah perusahaan. Aku juga
mempunyai seorang istri yang cantik dan baik hati. Luna Ramadhani, gadis yang
selalu ada untuk ku saat orang tuaku pergi itu sekarang menjadi istriku.Ini
semua juga karena motivator favoritku Bapak Dahlan Iskan. Beliau memberikanku
semangat hidup dari cerita hidupnya yang banyak tantangan dan rintangan tapi
tetap semangat menjalani hidup. Suatu malam aku termenung ...
“Tuhan mungkin dulu
engkau memberi ku cobaan yang membuatku tidak mempunyai semangat hidup, tapi
engkau kirim keluarga Luna untuk ku. Mereka telah membantuku sehingga aku
menjadi seperti ini. Mungkin orang tuaku sekarang tersenyum bahagia meliahat
aku sekarang, dan pasti mereka di surga bersamamu tuhan. Mungkin orang
disekitarku tidak bisa mendengar suara hatiku tapi engkau mendengarnya Tuhan.
Saat hatiku berbicara hanya Engkau pendengar setia nya Tuhan.Aku sayang Tuhan,
dan aku yakin Tuhan sayang aku.”
SELESAI